SMA Seminari Mertoyudan Suguhkan Lakon “Perang Troya”

Magelang, Jawa Tengah – Para siswa SMA Seminari Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, memainkan teater dengan menyuguhkan lakon “Perang Troya” di GOR “Laudato Si” di kompleks sekolah itu, Minggu malam.

“Lakon ini memberikan inspirasi untuk kita semua tentang perjuangan hidup,” kata Rektor Seminari Mertoyudan Romo Thomas Becket Gandhi Hartono ketika membuka pertunjukan tersebut di Magelang, Minggu malam.

Sejumlah siswa dari beberapa sekolah di daerah itu, seperti SMA Negeri 1 Kota Magelang, SMA Negeri 3 Kota Magelang, dan SMA Tarakanita Magelang, juga turut mendukung pementasan itu dengan memainkan sejumlah tokoh dalam lakon yang dipercaya orang Yunani sebagai peristiwa sejarah abad ke-13 atau 12 Sebelum Masehi.

Lakon “Perang Troya” yang dimainkan selama sekitar dua jam itu, bercerita tentang penyerbuan tentara Yunani ke Kota Troya akibat Paris menculik Helen, isteri Raja Sparta, Menelaus.

Sebelumnya, pasukan Yunani dengan sekutunya mengepung benteng Kota Troya selama 10 tahun. Mereka berhasil memasuki kota tersebut dengan bersembunyi dalam kuda kayu berukuran raksasa yang kemudian dikenal sebagai Kuda Troya.

Mereka berhasil masuk kota itu menggunakan kuda kayu tersebut dengan dalih untuk persembahan kepada Dewi Athena. Kuda Troya dalam pertunjukkan itu, ditampilkan dengan properti kuda raksasa terbuat dari kertas.

Sejumlah tokoh dalam cerita Perang Troya dihadirkan dalam pementasan dengan iringan musik oleh kelompok Canisii Seminarium Chamber, seperti Menelaus, Priam, Hector, Paris, Helen, Odysseus, Achilles, dan Sinon.

Guru teater Seminari Mertoyudan Yuliana Rahayu mengatakan para seminaris memainkan lakon itu secara total dengan proses latihan intensif secara disiplin dalam waktu yang relatif tidak lama.

“Melalui lakon itu, ingin disampaikan betapa upaya membangun perdamaian bukan hal yang mudah, tetapi harus diusahakan dengan terus-menerus,” ujarnya.

Penulis naskah lakon itu Valentino dan kawan-kawan, sutradara Fransisco Leonardus, sedangkan panggung pementasan yang berupa tribun GOR dipasangi properti menggunakan sejumlah bahan. Pementasan juga didukung dengan tata lampu dan tata suara.

Sebelum pementasan teater “Perang Troya”, para penonton yang sebagian besar kalangan pelajar dari beberapa sekolah di daerah setempat, berkesempatan memanfaatkan “Open House Seminari Mertoyudan” untuk menyaksikan karya para seminaris, berupa hasil kegiatan edukatif maupun ekstrakurikuler mereka di sekolah berasrama tersebut. (Ant)