Untidar Kembangkan Desa Wisata Balesari di Lereng Gunung Sumbing Kabupaten Magelang

Magelang, Jawa Tengah – Universitas Tidar (Untidar) Magelang mengembangkan Desa Wisata Balesari di lereng Gunung Sumbing, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

“Salah satu bentuk pengabdian kepada masyarakat, kami mengembangkan desa wisata `Puncak Giyanti Nol Kilometer Jawa` di Desa Balesari, Kecamatan Windusari, mudah-mudahan dalam waktu dekat kami bisa mewujudkan secara keseluruhan,” kata Rektor Untidar Magelang Cahyo Yusuf di Magelang, Sabtu.

Ia mengatakan hal tersebut usai mewisuda 101 mahasiswa program sarjana dan ahli madya di Aula Untidar.

“Kami menggarap suatu puncak yang di situ terdapat pohon pinus dan pohon yang lain bersama masyarakat Balesari, terutama para Karang Taruna,” katanya.

Menurut dia, membangun desa wisata itu telah dirintis sejak 2009 dengan menanam berbagai jenis pohon, terutama bibit durian sekitar 2.500 pohon. Saat ini pohon durian tersebut mulai berbuah.

“Kalau semua berbuah pasti kelebihan stok di situ, mereka tidak perlu membawa ke kota atau ke tempat lain, tetapi cukup membuat desa wisata,” katanya.

Untuk mendukung desa wisata, pihaknya sudah membangun gazebo dan pengadaan air ke posko I, II, dan posko III Bukit Giyanti sepanjang 2,5 kilometer.

Selain itu, pihaknya juga melengkapi lokasi wisata alam itu dengan kuda dan toilet.

“Air sudah mengalir sehingga wisatawan bisa memanfaatkan air untuk kebersihan,” katanya.

Ia menuturkan dalam waktu dekat juga akan dibangun fasilitas bumi perkemahan.

Menurut dia, Desa Balesari berpotensi untuk dikembangkan menjadi desa wisata, sedangkan Untidar memberikan pendampingan secara komprehensif dari berbagai aspek.

“Kami membina mereka dari sisi pertanian, kerajinan sehingga nanti ada wisata alam, kemudian juga ada wisata kuliner, wisata hasil pertanian, kerajinan dan wisata yang lain,” katanya.

Namun, pihaknya belum mendapatkan tanah untuk tempat parkir dan jalan khusus untuk menuju Puncak Giyanti.

“Sementara ini kami memanfaatkan jalan milik masyarakat. Namun, kami khawatir kalau objek wisata itu nanti menjadi besar akan mengganggu maka perlu jalan sendiri,” katanya.

Ia mengatakan penanaman bibit telah dilakukan sejak 2009, namun Untidar fokus untuk menjadikan desa wisata pada 2016.

“Pengelolaan diserahkan pada Karang Taruna Desa Balesari. Kami hanya memfasilitasi agar mereka bisa berkembang,” katanya. (Ant)