Bambang Sadono : Pabrik Semen Rembang Bantu Atasi Kemiskinan

Semarang – Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Bambang Sadono menilai kehadiran pabrik Semen Indonesia di Rembang sangat membantu mengatasi persoalan kemiskinan di daerah itu dan sekitarnya.

“Tingkat kemiskinan di Rembang itu masih tinggi sekali dan pemerintah daerah tidak memiliki andalan lain untuk mengatasinya,” katanya di Semarang, Sabtu (18/3) malam.

Komentar itu diungkapkannya saat kegiatan publikasinya sebagai anggota DPD RI asal Jawa Tengah melalui kesenian lokal yang digelar di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang.

Dalam kegiatan itu, kelompok kesenian wayang orang Ngesti Pandowo Semarang tampil membawakan lakon “Kresna Duta” di Gedung Kesenian Ki Narto Sabdo, Kompleks TBRS, Semarang.

Bersamaan dengan itu, dilakukan pula peluncuran dua buku Bambang Sadono berjudul “60 Tahun Bambang Sadono: Menjadi Tua Tetap Berkarya Masih Bergaya” dan “60 Tahun Bambang Sadono: Kenangan Sepanjang Jalan”.

Bambang yang berasal dari Blora, kabupaten yang berbatasan dengan Rembang mengakui memang masih ada sejumlah pihak yang menolak kehadiran pabrik semen dan tetap harus dihargai.

“Dengan segala catatan, keluhan harus ditanggapi, dijelaskan. Keberatan-keberatan atas pabrik semen itu apa saja. Harus diluruskan dan dijelaskan,” kata sosok kelahiran Blora, 30 Januari 1957 itu.

Yang jelas, kata dia, banyak sekali “multiplier effect” atau dampak ikutan atas kehadiran pabrik Semen Indonesia di Rembang yang akan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar.

Ia pun sudah melihat langsung aktivitas Semen Indonesia yang membangun pabriknya di Rembang yang sudah memberikan manfaat bagi masyarakat Rembang dan sekitarnya.

Apalagi, menurut dia, investasi bisnis pabrik semen di Rembang itu dilakukan badan usaha milik negara (BUMN) yang tentunya bermanfaat besar bagi negara dan masyarakatnya sendiri.

Selama ini, kata mantan Sekretaris Jenderal Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) itu, sudah banyak sekali industri semen asing yang kehadirannya di Indonesia tidak dipermasalahkan.

Ia mencontohkan industri semen milik Tiongkok dan negara-negara Eropa yang berdiri di Indonesia dan jelas industrinya dikuasai oleh asing, namun selama ini tidak pernah ada masalah.

“Lha ini kan (industri semen, red.) milik Indonesia. Uangnya ditanam di kita dan yang memanfaatkan juga kita sendiri. Makanya, menurut saya perlu dikawal ini. Kalau bisa, harapan saya, ya, segera beroperasi,” katanya.

Pabrik Semen Indonesia di Rembang dijadwalkan beroperasi April 2017, setelah mengantongi izin lingkungan yang baru yang diteken oleh Gubernur Jateng Ganjar Pranowo.

Menteri BUMN Rini M Soemarno pun sudah memastikan kesiapan pabrik semen pelat merah itu beroperasi dari hasil kunjungannya di pabrik Semen Rembang, Jumat (17/3), dan menargetkan peresmiannya pada April mendatang. (Ant)