Kudus – Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, gencar mensosialisasikan penggunaan pupuk organik untuk mengatasi permasalahan alokasi pupuk bersubsidi yang semakin berkurang.
“Selain persoalan alokasi pupuk bersubsidi yang realisasinya belum sesuai pengajuan, tentunya juga untuk kepentingan jangka panjang agar tingkat kesuburan tanah tetap terjaga,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus Didik Tri Prasetya didampingi Kepala Bidang Tanaman Pangan Dewi Masitoh di Kudus, Senin.
Menurut dia, penggunaan pupuk kimia dalam jangka waktu yang terlalu lama, dapat mengakibatkan tingkat kesuburan tanah semakin berkurang dan berdampak pada hasil pertanian nanti.
Selain itu, alokasi pupuk bersubsidi setiap tahun juga menurun karena tahun ini juga belum sesuai rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK).
Dengan gencarnya sosialisasi penggunaan pupuk bersubsidi, dia berharap petani di Kabupaten Kudus tidak terlalu bergantung dengan pupuk kimia, sehingga mulai sekarang bisa mencoba menggunakan pupuk organik.
“Tahap awal penggunaan pupuk organiknya bisa dimulai dari persentase 20 atau 25 persen. Nantinya bisa ditingkatkan lagi,” ujarnya.
Ia mengakui tahap awal memang belum bisa menyampai produktivitas saat menggunakan pupuk kimia karena kondisi tanah saat ini masih ada efek dari penggunaan pupuk kimia secara berlebihan dan dalam jangka lama.
“Jika sudah berlangsung selama beberapa kali musim tanam, tentunya tingkat kesuburan tanahnya semakin meningkat sehingga produktivitasnya nanti juga akan meningkat,” ujarnya.
Ia mengakui jumlah petani yang beralih ke pupuk organik memang mulai bertambah dan hampir di setiap kecamatan ada. Terlebih saat ini juga tersedia pupuk organik di pasaran selain bisa membuat sendiri dengan memanfaatkan kotoran hewan ternak.
Dewi Masitoh menambahkan alokasi pupuk bersubsidi yang diterima Kabupaten Kudus 2023 untuk Pupuk Urea sebanyak 10.000 ton dan NPK sebanyak 6.500 ton. “Alokasi yang diterima tersebut belum sesuai RDKK, sehingga petani bisa memulai menggunakan pupuk organik,” ujarnya.
Ia menilai petani selama ini hanya mementingkan tingkat kesuburan tanaman padi lewat penggunaan pupuk kimia dibanding tingkat kesuburan tanahnya. Lambat laun unsur hara di dalam tanah juga berkurang dan tanah juga cenderung asam karena Ph tanah semakin berkurang atau kurang dari angka 6 karena idealnya tingkat keasamannya berkisar antara 6-7 atau posisi netral, sedangkan lebih dari delapan menunjukkan tanah terlalu basah dan tingkat kesuburannya juga kurang. (Ant)





