Melihat Program Edupark PT Semen Gresik (Bagian 1)

Rembang, – Bupati Jatuh Hati, Perkuat Program Satu Desa Satu Produk Unggulan

PT Semen Gresik yang beralamat di Desa Kajar, Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang berkomitmen untuk terus berkontribusi positif bagi daerah serta tumbuh dan berkembang bersama masyarakat sekitar perusahaan.
Salah satu bentuk komitmen itu diwujudkan melalui progam Edupark yang diresmikan pemanfaatannya oleh Bupati Rembang H Abdul Hafidz.

Rupanya, Edupark yang merupakan bagian dari program Perkebunan, Pertanian, Perikanan dan Peternakan Terpadu (P4T) PT Semen Gresik ini justru membuat orang nomor satu di Rembang ini jatuh hati. Bahkan, Abdul Hafidz ingin agar program Edupark yang setelah diresmikan, pengelolaannya diserahkan ke BUMDes Kajar ini bisa diterapkan di desa-desa yang ada di Kabupaten Rembang.

Edupark ini memperkuat progam pemerintah berupa one village one product. Sebab seiring kehadiran Edupark maka desa-desa sekitar perusahaan persemenan terkemuka ini bisa memiliki satu produk unggulan berbasis potensi lokal. Seperti apa?

Tawa H Abdul Hafidz langsung pecah ketika mendengar kelakar dari Kapolres AKBP Dolly A Primanto, Forkompinda Rembang serta jajaran Direksi PT Semen Gresik saat meninjau kawasan Edupark, baru-baru ini.

Candaan dan guyonan tanda keakraban tersebut terus ada sembari mereka mengitari lahan Edupark yang luasnya mencapai 1,2 hektare.

“Kalau hasilnya bagus seperti ini, bisa jadi Pak Bupati Rembang pindah haluan menjadi pengusaha, nih,” canda AKBP Dolly yang disambut tawa Bupati H Abdul Hafidz dan rombongan.

Rupanya, paparan tentang Edupark yang dipandu Kepala Unit Komunikasi dan Bina Lingkungan PT Semen Gresik Syaichul Amin dan Konsultan Edupark Sri Wahyuni membuat Abdul Hafidz dan rombongan terkesima.

Bahkan saat berada di kandang ayam arab dan burung puyuh, Abdul Hafidz sempat meminta Sri Wahyuni agar datang ke rumah dinasnya untuk menjelaskan lebih rinci dan sekaligus membuatkan hal serupa.

“Bisa nggak, ibu buatkan satu di rumah dinas? Saya ingin praktik langsung. Kalau memang dijalankan saya akan ajak BUMDes untuk melihat langsung dan mempraktikkan kegiatan Edupark,” ujar Abdul Hafidz. Lahan Edupark diisi empat ekor sapi, tujuh domba morino, 100 ekor ayam, 400 ekor burung puyuh, dan 2,000 ekor lele.

Selain itu juga ada 1500 baglog jamur, 200 batang pisang cavendish, 200 batang pepaya calina. Lalu jahe, kangkung, sawi, terong, jeruk sambel, sereh, dan tanaman hidroponik lainnya. Selain itu ada juga instalansi biogas, biourine system hingga converter untuk menghasilkan listrik skala kecil.

Tiap hewan maupun tanaman yang ada di Edupark bisa diambil manfaatnya. Sebagai contoh dari ayam Arab dan burung puyuh bisa diambil telurnya. Sedang lele bisa dimanfaatkan dagingnya. Pisang dan pepaya dimaksimalkan buahnya.

Tak hanya itu, jamur, kangkung, sawi, terong hingga sereh dan tanaman hortikultura lainnya juga bisa dimanfaatkan. Sedang sapi dimanfaatkan dagingnya. Domba Morino selain daging juga bulunya bisa dimanfaatkan untuk berbagai kerajinan. Keistimewaan Edupark tak hanya itu.

Sebab antara satu dengan lainnya juga saling terintegrasi. Sebagai contoh, dari kotoran sapi, domba, ayam dan puyuh bisa dimaksimalkan untuk pupuk dan pakan ternak. Sehingga tak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk pupuk berbagai tanaman atau pakan ternak hingga ikan lele yang ada di lahan Edupark. Tentu saja, hal ini sangat ekonomis. Tak hanya itu, berbagai kotoran hewan ternak itu juga bisa dimanfaatkan untuk biogas dan bahkan energi listrik.

Jika dikonversi, hasil kotoran ternak yang jumlahnya sekitar 17 m3 itu setara 5000 watt. Sehingga cukup untuk kompor biogas dan sekaligus lampu penerangan rumah warga. Berbagai nilai lebih tersebut yang membuat Abdul Hafidz dan Forkompinda Rembang jatuh hati. Sebab jika dihitung secara matematis, Edupark ini memang menguntungkan.

Semisal ternak ayam arab saja. Modal yang dibutuhkan untuk membuat kandang beserta 100 ekor ayam arab dan pakan untuk beberapa pekan sekitar Rp36 juta.

Ayam arab merupakan spesies yang bisa bertelur tiap hari meski tanpa ada pejantan. Jika rata-rata, ada 60 telur saja yang dihasilkan maka tiap bulan uang yang dihasilkan jutaan rupiah. Kok bisa? 60 telur dikalikan 30 hari sama dengan 1800 telur per bulan. Di pasaran harga satu butir ayam arab sekitar Rp2 ribu.

Jika dikalikan maka hasilnya Rp3,6 juta per bulan. Atau dengan kata lain, keuntungan yang diperoleh dari ternak ayam arab saja tiap tahun Rp7,2 juta. Produktivitas telur ayam arab itu berlangsung hingga kurun waktu 72 pekan atau sekitar 1,5 tahun.

Jika sudah tidak produktif, maka ayam arab dijual dan digantikan dengan yang baru dan produktif. Penurunan nilai ayam arab juga tak terlalu signifikan. Jika masih produktif, harga tiap ekor ayam arab sekitar Rp90 ribu. Namun jika sudah tidak produktif, harganya Rp30 ribu.

“Saya ingin ada (Desa) Kajar-Kajar lain di Rembang. Semen Gresik membangun Edupark ini Rp1,2 miliar karena bahan yang digunakan berkualitas.

Kalau Bumdes nanti dengan anggaran sekitar Rp300 juta mungkin sudah bisa membuat yang serupa. Bahan yang biasa tidak apa-apa yang penting konsep dan kegiatannya sama dengan ini,” harap Abdul Hafidz. Kepala Unit Komunikasi dan Bina Lingkungan PT Semen Gresik Syaichul Amin mengatakan tiap tanaman maupun hewan ternak yang ada di lahan Edupark mempunyai nilai ekonomi. Bahkan nilainya bisa meningkat beberapa kali lipat jika diolah menjadi produk jadi.

Ia mencontohkan bulu domba bisa diolah menjadi beragam produk mulai dari sepatu, dompet, rebana dan lain sebagainya. sedang jamur, jahe, pisang, pepaya dan tanaman lainnya juga bisa diolah menjadi produk padi bernilai tinggi seperti keripik, sirup, aneka minuman dan lain sebagainya.

Menurut Syaichul Amin keragaman hasil dari Edupark tersebut ikut menunjang progam pemerintah one village one product. Dalam beberapa tahun mendatang, tiap desa sekitar PT Semen Gresik mampu menjadi sentra-sentra produk unggulan berbasis potensi lokal. Semisal Desa Kajar menjadi sentra kampung puyuh.

Yang dibutuhkan hanya cukup satu rumah memiliki satu rak untuk ternak burung puyuh. Contoh lainnya, Desa Tegaldowo menjadi sentra pengolahan pisang cavendish, Desa Kadiwono sentra
jamur, Desa Timbrangan (Rembang) sentra pengolahan kulit domba, Desa Ngampel (Blora) jadi sentra minuman kemasan pepaya calina dan seterusnya.

“Ujung proses ini desa-desa tersebut lebih mandiri, punya daya saing dan manfaatnya juga bisa dinikmati warga setempat,” tandas Syaichul Amin. (bersambung) (Ant)